Penjelasan Kecoak Sangat Kuat dan Sulit di Bunuh

Penjelasan Kecoak Sangat Kuat dan Sulit di Bunuh

Kecoak merupakan salah satu hewan yang sudah ada sejak jutaan tahun lalu. Bahkan, kecoak sudah ada sejak zaman dinosaurus pertama kali muncul.

Hal ini memebuktikan bahwa kecoak terus berevolusi hingga bisa bertahan sekian lama. Hewan ini juga sangat sulit dibunuh.

Namun, yang jadi pertanyaan adalah mengapa kecoak sangat kuat, sulit dibunuh, dan bisa bertahan sekian lama?

Sebuah penelitian terbaru mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Para peneliti mengurutkan DNA kecoak untuk mengungkap alasan yang membuat mereka begitu ulet dan sulit dibunuh.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini secara khusus melihat genom dari kecoak Amerika (Periplaneta americana). Hasilnya, DNA kecoa disebut lebih menarik daripada yang diketahui selama ini.

Salah satu contohnya, kecoak dikenal punya kemampuan untuk menemukan makanan di lingkungan sulit sekalipun. Menurut laporan Smithsonian, ternyata hal ini adalah bagian dari alasan mengapa mereka berkembang dengan baik di perkotaan.

Laporan tersebut juga mengungkap kemampuan ini mungkin disebabkan oleh banyaknya gen kecoak yang mengodekan reseptor kimia.

Serangga ini memiliki 1.000 gen tersebut, termasuk 154 gen untuk mencium bau dan 522 gen untuk merasakan (makanan).

Temuan inilah yang mungkin menjadi penjelasan tentang kemampuan mereka untuk menemukan makanan di tempat yang sulit.

Selain itu, penelitian ini juga mengungkap bagaimana kecoak bisa bertahan hidup di lingkungan yang tidak sehat dan penuh patogen. Padahal, kebanyakan makhluk hidup tidak akan bertahan dengan hal itu karena mudah terserang penyakit.

Dirangkum dari Newsweek, Kamis (22/03/2018), ini karena sel kecoak telah berevolusi sehingga dirancang khusus untuk merespons bakteri dan jamur. Sel-sel ini mengeluarkan senyawa antimikroba yang melindungi kecoak.

Meski dua temuan tersebut menarik, analisis DNA ini bisa mengungkapkan lebih banyak lagi tentang kecoak. Salah satunya kenapa kecoak muda mampu meregenerasi kakinya.

Pemahaman yang lebik baik tentang gen serangga ini memungkinkan kita meniru sifat-sifatnya. Para peneliti juga berharap temuannya mampu membantu mengendalikan populasi hewan ini.

"Studi kami dapat menjelaskan baik pengendalian dan pemanfaatan serangga ini," tulis laporan penelitian ini.

Hasil Analisis Peneliti Soal Rahasia Jadi Kaya

Hasil Analisis Peneliti Soal Rahasia Jadi Kaya

Pernahkah Anda bertanya mengapa beberapa teman terlihat lebih makmur? Padahal, mungkin Anda dan teman-teman mengawali karir dalam posisi yang sama.

Sama penasarannya dengan Anda, beberapa ilmuwan di Italia kemudian menganalisis rahasia menjadi kaya.

Para peneliti di University of Catania, Italia melakukan penelitian yang bertujuan untuk memahami peran yang dimainkan oleh kesempatan dalam menginvestasikan waktu dan sumber daya kita dalam berbagai bidang.

Mereka menggunakan sebuah model simulasi komputer tentang kekayaan. Dalam simulasi tersebut, para peneliti memetakan kehidupan kerja selama 40 tahun.

Simulasi komputer tersebut secara rinci dan akurat memproduksi model distribusi kekayaan dari dunia nyata.

Hasilnya bukan bakat yang menjadi faktor pendukung utama menjadi kaya. Mereka menemukan bahwa orang yang berada di puncak kekayaan bukanlah yang paling berbakat, melainkan yang paling beruntung.

Secara umum, hanya 10 persen orang di dunia ini yang menikmati 85 kekayaan. Sayangnya, bakat dan kecerdasan yang dimiliki bukan faktor utamanya.

"Simulasi kami dengan jelas menunjukkan bahwa faktor (yang menentukan kekayaan) hanya murni keberuntungan," tulis para peneliti dikutip dari Science Alert, Minggu (11/03/2018).

Untuk mendapat temuan ini, para peneliti melakukan simulasi terhadap 1.000 individu atau agen yang dihasilkan oleh komputer. Setiap baat didistribusikan secara normal pada tingkat rata-rata, dengan beberapa standar deviasi.

Maksudnya adalah, setiap individu dalam simulasi tersebut memiliki beberapa bakat. Tapi, sebagai catatam tidak ada yang memiliki jumlah bakat lebih besar atau lebih kecil.

Setiap individu juga memulai dengan tingkat kekayaan yang sama.

Selanjutnya, peristiwa acak dimasukkan ke dalam simulasi tersebut. Peristiwa-peristiwa ini bisa menjadi cara untuk menambah atau mengurangi tingkat kekayaan para individu tersebut, bergantung pada tingkat keberuntungan masing-masing individu.

Setelah dianalisis, distribusi kekayaan dalam simulasi tersebut mirip dengan yang terjadi di dunia nyata. Dengan kata lain, hanya 20 persen orang yang memiliki 80 persen jumlah kekayaan keseluruhan.

Untuk memastikan integritasnya, para peneliti mengulangi proses simulasinya beberapa kali. Tapi hasil yang diperoleh kurang lebih sama.

Selain itu, para peneliti menemukan bahwa 20 persen orang terkaya bukanlah orang yang paling berbakat.

"Kesuksesan maksimal tidak pernah bertepatan dengan talenta maksimal, begitu pula sebaliknya," ungkap para peneliti.

Faktanya, orang terkaya tersebut merupakan orang dengan bakat rata-rata kebanyakan orang. Selain itu, mereka adalah orang yang banyak mengalami peristiwa beruntung dalam simulasi tersebut.

Sedangkan orang yang memiliki kekayaan paling sedikit adalah orang yang terkena dampaknya.

"(Penelitian ini) menyoroti keefektifan dari cara penilaian prestasi berdasarkan tingkat keberhasilan yan diraih dan menggarisbawahi risiko distribudi penghargaan atau sumber daya kepada orang yang pada akhirnya lebih beruntung daripada yang lain," tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Namun penelitian ini bukan untuk mengecilkan hati Anda. Para peneliti justru sedang mengeksplorasi bagaimana model tersebut bisa digunakan untuk memaksimalkan investasi dalam segala hal, termasuk sains dan bisnis.

Sayangnya, temuan ini belum mendapat tanggapan dari banyak ahli. Sehingga kita tidak dapat mengambil terlalu banyak kesimpulan sampai ini dianalisis lebih ketat lagi.

Meski begitu, para peneliti telah mengambil kesimpulan dari hal yang membingungkan para ilmuwan dalam waktu lama.

"Memang benar bahwa ada beberapa tingkatan bakat yang diperlukan untuk sukses, tapi hampir tidak pernah orang yang paling berbakat mencapai puncak kesuksesan tertinggi. Justru pemegang kesuksesan adalah individu yang biasa namun dengan keberuntungan," simpul peneliti.

Surat Keprihatinan Pada Bumi Ditandatangani Oleh 20.000 Ilmuwan

Surat Keprihatinan Pada Bumi Ditandatangani Oleh 20.000 Ilmuwan

Surat Keprihatianan Masih ingat dengan "Surat untuk Kemanusiaan"? Surat yang pertama kali dirilis pada November 2018 dan awalnya ditandatangani oleh 15.000 ilmuwan dari 184 negara tersebut sedang menjadi bahan pembicaraan.

Surat tersebut kini telah ditandatangani oleh 20.000 ilmuwan dan kini disebut sebagai salah satu riset paling didiskusikan dalam sejarah. Penerbitnya bahkan mengklaim bahwa surat tersebut memengaruhi para pembuat kebijakan di seluruh dunia.

Sebetulnya, surat ini merupakan pembaharuan dari surat serupa yang diterbitkan oleh 1.700 anggota Persatuan Ilmuwan yang Prihatin pada 1992.

Dalam surat pertama, para ilmuwan berkata bahwa manusia sedang menghancurkan rumahnya sendiri dan akan mengalami berbagai bencana, seperti polusi, penipisan ozon, penurunan produktvitas, penggundulan hutan, kepunahan berbagai spesies, dan perubahan iklim.

Kini, prediksi tersebut menjadi kenyataan. Bahkan, selain lubang ozon, semua masalah yang disebutkan di atas menjadi lebih buruk dari 26 tahun yang lalu.

Oleh karena itu, para ilmuwan pun memutuskan untuk menulis surat kedua yang mengajak ilmuwan lainnya, pakar ekonomi, dan pemegang kebijakan untuk mengubah fokus dari mendorong pertumbuhan menjadi menjaga kelangsungan planet bumi.

“Ada batas lingkungan yang kritis dari pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada sumber daya,” tulis mereka.

Untungnya, permintaan para peneliti didengarkan. Di samping klaim penerbit bahwa surat ini adalah riset yang paling dibicarakan keenam dalam sejarah, surat untuk kemanusiaan ini telah menjadi bagian dari pidato parlemen Israel dan Kanada.